Risalah Kepada Pemuda
Ketahuilah wahai para pemuda da’wah, bahwa …
Dalam sejarah kebangkitan bangsa-bangsa, pemuda selalu memiliki peran yang
besar dan strategis, karena untuk menuju kebangkitan bangsa dibutuhkan
energi yang kuat berupa keyakinan yang kuat, ketulusan, semangat yang jujur,
kesungguhan dalam kerja dan pengorbanan.
Dalam hal ini pemudalah yang berpotensi untuk itu, karena pemuda adalah
simbol hati yang masih jernih sehingga memiliki keyakinan dan iman yang
kuat, kejujuran yang memungkinkan untuk memiliki ketulusan dan keikhlasan
dalam beramal, serta semangat yang menggebu yang memungkinkan untuk beramal
dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan pengorbanan.
Namun demikian potensi tersebut sifatnya netral, jika pemuda tidak
mendapatkan pembinaan yang baik maka potensi tersebut akan menjadi energi
negatif yang merusak diri dan orang lain. Dengan demikian jelaslah bagi
kita bahwa dalam rangka menyongsong kebangkitan umat, segala program yang
mencerminkan perhatian kepada pemuda adalah keniscayaan yang tidak bisa
kita abaikan.
Dalam keadaan apapun pemuda selalu menjadi tumpuan harapan umat demi masa
depan yang lebih baik. Namun demikian keadaan menjadi sangat berbeda antara
pemuda yang tumbuh pada saat umat sedang jaya, aman damai dan sentosa
dengan pemuda yang tumbuh pada saat umat sedang mengalami kebangkrutan dan
baru mulai menyadari akan perlunya bangkit kembali merebut kemerdekaannya
yang hilang, kekayaannya yang diserobot, hak yang terampas dan bahkan jati
dirinya yang tertimbun oleh nilai-nilai kejahiliyahan. Pemuda jenis pertama
tentunya akan cukup memfokuskan pada agenda dirinya daripada agenda umat
dan orang lain. Karena dengan begitu dia sudah cukup baik perannya untuk
meraih masa depan yang lebih baik.
Berbeda dengan pemuda yang tumbuh pada saat umat sedang bangkrut dan baru
mulai menyadari akan perlunya bangkit kembali. Dalam keadaan seperti ini
pemuda dituntut untuk lebih memperhatikan nasib orang lain dan agenda umat
dari pada nasib dan agenda diri sendiri. Para pemuda dituntut untuk
berfikir panjang, menentukan sikap dan strategi, serta kerja keras yang
berkesinambungan.
Saat ini keadaan umat bagaikan orang yang sakit parah dan membutuhkan
pengobatan serta perawatan yang benar untuk menuju kesembuhannya. Atas
takdir Allah dan Alhamdulillah kita tumbuh pada saat umat sedang berjuang
keras menuju kebangkitannya. Ternyata kitalah -- para pemuda -- yang harus
menjadi dokter dan perawatnya. Alangkah beratnya tugas ini, alangkah
mulianya tugas ini dan alangkah besarnya pahalanya di sisi Allah !. Para
pemuda mestinya bangga bahwa dirinya telah bergabung dengan da’wah ini,
karena berarti Allah telah memuliakannya di antara sekalian makhluknya
untuk menjadi pemimpin dunia.
Dalam keadaan seperti ini yang dibutuhkan adalah diagnosa yang tepat
terhadap pasien sampai kita bisa mengidentifikasi penyakit dengan benar.
Bila ternyata penyakit itu cukup kompleks maka kita harus tahu skala
prioritas dan inti penyakitnya, kemudian menentukan obat dan dosisnya,
proses pengobatan yang benar dan perawatan yang teliti demi mengembalikan
kesehatannya dengan baik.
Dari sekian kondisi umat yang sedang bangkit yang paling memprihatinkan
adalah bahwa umat Islam bangkit dalam keadaan tubuh yang tercabik-cabik
oleh banyaknya aliran da’wah yang saling berbeda, hiruk pikuknya seruan
yang saling bertabrakan, bermunculannya manhaj yang banyak dan
membingungkan, bertabrakannya pendekatan da’wah sesama kelompok Islam
ditambah dengan individu-individu yang ambisius dengan agenda pribadi dan
karirnya yang menumpang sukses di tengah-tengah kegiatan da’wah. Semua
itu tidak lain hanya akan mencabik-cabik potensi umat sehingga menjadi tak
berdaya. Semua ini mutlak membutuhkan studi analisa yang serius untuk
kemudian dicarikan formula yang pas untuk menyelamatkan umat ini.
Sebelum segala macam pendekatan diusulkan untuk menyelamatkan umat ini, ada
satu hal yang tidak bisa ditawar lagi, bahwa yang pernah membuat umat ini
berjaya adalah karena mereka memiliki Islam yang utuh, bersih dan sempurna.
Dan bahwa kemudian tangan-tangan jahat musuh-musuh Islam merusaknya dengan
menambah, mengurangi dan menyimpangkan pemahamannya, sehingga lahirlah
Islam yang cacat dan tidak utuh lagi. Inilah yang telah mencabik-cabik umat
Islam.
Untuk itu, satu hal yang tidak bisa ditawar lagi bahwa solusi pertama dan
paling utama adalah mengembalikan umat ini kepada pemahaman yang orisinal,
benar, utuh, menyeluruh, jelas, dengan kemasan yang modern agar umat ini
kembali berjaya di abad ini. Islam yang bersumber kepada Qur’an dan
Sunnah serta sirah Nabi yang penuh sejarah aplikasinya, serta sesuai dengan
pemahaman salafus shalih, dan sesuai dengan format ijtihad yang benar dalam
menterjemahkan Islam ke dalam konteks terkini.
Dalam rangka menyelamatkan umat ini tentunya kita tidak berhenti pada kerja
tajdid dan penyebaran fikrah saja, namun harus dibarengi dengan upaya
menjadikan fikrah ini menjadi nyata terpraktekkan dalam kehidupan umat
sehari-hari. Untuk itu kita harus melakukan perubahan setahap demi setahap
mengantarkan umat ini dengan tarbiyatul ummah sampai tingkat kesempurnaanya.
Dan untuk itu kita percaya ada tahapan yang tidak bisa kita langgar yaitu:
Kita harus memulai dengan merubah diri sendiri menjadi pribadi da’iyah
yang baik.
Langkah pertama: adanya pribadi yang shaleh secara utuh.
Langkah kedua: keluarga muslim dalam seluruh aspeknya.
Langkah ketiga: bangsa yang muslim dengan segala ciri khasnya.
Langkah keempat: pemerintahan muslim dengan segala keunikannya.
Langkah kelima: bergabungnya seluruh tanah air Islam yang sudah
dicabik-cabik penjajah ke dalam satu kesatuan pemerintahan Islam.
Langkah keenam: berkibarnya bendera Islam di tatanan dunia internasional.
Langkah ketujuh: penegasan sekali lagi bahwa Islam menawarkan da’wahnya
ke seluruh manusia sebagai pengendali peradaban dunia (ustadziatul alam).
Sementara itu kita menyadari bahwa untuk menuju sukses tersebut kita tidak
punya pilihan lain kecuali jalan panjang dan melelahkan ini. Dan kita juga
menyadari bahwa di setiap tahapan ada programnya, sarananya, tantangan dan
hambatan yang berbeda serta kebutuhan setiap marhalahnya yang senantiasa
berbeda pula.
Jawaban dari kesemuanya tadi adalah kerja keras yang tak mengenal putus asa,
kerja yang didasari dengan pemahaman dan keikhlasan serta dengan komitmen
dan resistensi yang tinggi, ukhuwah dan amal jama’i yang didasari saling
mempercayai sesama a’dho’ dan kesetiaan pada jama’ah.
Selamat bekerja wahai pemuda….!!!
Jadwal Shalat Canberra